What is IFA?

Ada perubahan yang harus disikapi dari kita sebagai orang tua dalam mengantisipasi perkembangan budaya di tengah tatanan masyarakat sosial yang berbeda dari “budaya asal“ kita.

Tuntutan perubahan ini menjadi transparan ketika ada tanggung jawab moral yang harus diemban oleh setiap individu ketika mereka sudah berkeluarga apalagi kalau sudah dikaruniai anak. Terjadinya friction antara budaya lokal (US) dan budaya asal (Indonesia) adalah sesuatu yang alami dan merupakan konsekuensi logis dari buah hasil perkawinan silang antara keputusan untuk berani hidup di sini (US) dengan value/nilai kehidupan yang kita memperolehnya dari budaya asal (Indonesia).

Tarik-menarik antara magnet yang bersumber pada budaya lokal demikian sangat kuatnya. Kekuatan ini sangat riskan kalau hanya diimbangi oleh kekuatan individu. Hanya masalah waktu yang akan menentukan, sampai kapan kekuatan individu yang bersangkutan akan mampu bertahan. Ketika banyak lubang yang harus ditambal, apalagi lubang itu tidak hanya mengancam posisi orang tua saja, tetapi justeru lebih gencar tertuju kepada anakanak kita.

Berangkat dari kondisi yang ada saat ini dan prediksi tantangan yang menghadang di masa depan, sudah hampir dapat dipastikan bahwa wajah Islam di komuniti ini akan sangat tergantung dari peran kita dalam mempersiapkan anakanak kita. Sehingga permasalahan ini bukan lagi monopoli dari keluarga per keluarga, melainkan sudah masuk dalam territorial sebuah komuniti.

Ketika komuniti muslim sangat bergantung dari keluarga muslim disekitarnya, maka sudah barang tentu keluargalah yang harus diperkuat basisnya. Methoda belajar bersama dalam keluarga inilah yang saat ini ditawarkan oleh IFA (Islamic Family Academy) sebagai salah satu pilihan dalam menghadapi tantangan di masa depan. (AP1)