Are We There Yet?

Are We There Yet?

Haruskah ada?

Keberadaan IFA dibangun bukan untuk memilah mana yang benar dan yang salah. Sangat jauh dari itu. Bahkan IFA mungkin belum berkompeten untuk memberikan fatwa benar atau salah, haram atau halal. Karena memang bukan ke sana arah tujuan IFA berjalan.

IFA menghargai adanya perbedaan dalam menafsirkan sesuatu karena perbedaan sudut pandang merupakan rahmat yang luar biasa besarnya. Ini merupakan bukti betapa nikmatnya kehidupan manusia yang memang sejatinya bukan di set up oleh Alloh SWT untuk kehidupan yang homogen. Wallohualam.

Dengan menganut falsafah yang seperti ini, maka keluaran (output) dari IFA pun tidak di-disain untuk bermuara pada satu kutub yang sama dalam hal aplikasinya. Dengan beragam keluarga yang ada plus latar belakang keluarga yang macem-macem, maka akan beragam pula bentuk aplikasi ritual sehari-harinya. Seolah pak Kyai (Ustad atau Syeikh)-nya bilang, “Para santri, silahkan mencari aplikasi yang sesuai dengan tingkat kenyamanan masing-masing keluarga”.

Paling tidak, ada empat alasan mengapa media kumpul-kumpul setiap hari Sabtu ini kita perlukan. Ternyata ada kesamaan tuntutan alam bawah sadar bahwa:

  1. Kita semua sepakat akan menjadi kalang kabut kalau hanya mengandalkan lingkungan sekitar, dunia kerja atau sekolah dalam proses membentuk kharakter/value untuk keluarga dan anak-anak kita. Kehidupan di US dengan segala tekonologi penunjangnya (Internet, TV dan lain-lain) telah mengharuskan kita untuk berkonsentrasi saling menjaga antar keluarga yang satu dengan keluarga yang lain. Kalau tidak demikian, tanpa partnership hanya waktu yang menentukan kapan benteng pertahanan keluarga kita akan ambrol. Lha wong dengan partnership saja masih belum menjamin tidak ambrol.
  2. Kita juga sepakat akan belepotan dalam hal mengajar anak-anak kita, sementara kita sendiri masih pas-pasan saja pengetahuannya. Sebuah ironi yang salah kaprah selama ini yang telah mendarah daging dalam tatanan masyarakat kita. Ada bentuk legitimasi tak tertulis bahwa “Belajar hukumnya wajib untuk anak-anak saja. Sementara untuk orang tua, belajar hukumnya adalah Sunat”. Bagi yang bujang atau yang belum punya anak, ini kindest reminder saja .
  3. Masing-masing keluarga mempunyai tingkat kebutuhan yang berbeda. Dan itu hukumnya sah-sah saja. Karena pada akhirnya yang benar-benar tahu tentang kebutuhan kita, tentunya hanya kita sendiri. Iya to? Tidak mungkin to kebutuhan kita di dikte oleh orang lain. Bukan hanya ngelunjak istilahnya, tetapi juga masuk kategori kurang ajar . Kalau memang belum dapat tahun ini mulai belajar mengajinya, mungkin tahun depan. Silahkan saja. Lha wong masing-masing keluarga kebutuhannya berbeda.
  4. Dari semua point di atas, diperlukan sebuah komitmen dalam mencapainya. Komitmen untuk menjaga agar program yang ada dapat berjalan sesuai dengan harapan dari masing-masing keluarga dan sekolah. Komitmen dari sekolah untuk memberikan nilai tambah (added value) yang bermanfaat untuk bekal di rumah masing-masing setelah 2 jam belajar bersama di Masjid. Maka jadilah program yang padat. Dua jam review di masjid, 6 hari 22 jam di rumah. Sekali setiap enam bulan di ujikan. Bagaimana nggak padat?

Program Review

Salah satu phase penting bagi kita semua adalah mereview ulang antara tujuan dan tingkat pencapaian. Pencapaian tentunya bukan hanya sekedar “asal tercapai”, tetapi “tercapai” dengan tingkat kualitas yang sesuai dengan harapan kita semua. Untuk kelas Al-Quran misalnya. Tujuan akhir dari kelas ini bukan hanya memberikan anak kita pengetahuan tentang bacaan “huruf per huruf” di Al-Quran. Kita sekarang tahu bahwa membaca Al-Quran ternyata memerlukan pengetahuan tentang Tajweed dan Makhraj. Ilmu nafas salah satu tambahan lagi. Pening?

Kalau tingkat pencapaianya sesuai dengan target yang dicanangkan diawal, maka patut bersyukurlah kita semua. Ternyata kapalnya berlayar sesuai dengan keinginan penumpang dan nakhoda. Namun demikian, kenyataan menunjukan bahwa most likely tidak semua pencapaian sesuai dengan target awalnya. Untuk itulah diperlukan duduk kembali antara penumpang dan nakhoda kapal dalam melihat celah mana yang masih perlu ditambal dan alat apa yang digunakan untuk menambal.

The No Family Left Behind Act

Yang mempunyai kemampuan untuk dapat maju dengan cepat, sebagai orang tua, kita wajib mempersiapkan fasilitas penunjangnya. Yang kurang cepat, sebagai orang tua, kita mempersiapkan media booster-nya. Logikanya, kalau ada penumpang yang mabuk dan perlu penanganan khusus, sudah barang tentu komunikasi antara penumpang dan nakhoda adalah kuncinya.

Saya menganut faham “Perbedaan yang ada diantara kita merupakan bumbu dari kehidupan, sementara persamaan yang ada diantara kita adalah signal dari-NYA (dan tuntutan dari-NYA) untuk dapat berbuat lebih jauh lagi”. Lha kalau punya kemampuan tetapi diam saja bukankah itu berarti men-dholim-i nikmat yang sudah diberikan oleh NYA selama ini.

Kalau setiap ketemu hari Sabtu yang kita bicarakan hanyalah perbedaan yang ada, mencari sisi lemahnya saja, maka saya sarankan untuk cepat mencari pelampung pengaman untuk masing-masing karena sudah pasti sebentar lagi kapal kita akan karam tenggelam. Ciao! Wassalam!

Selama masing-masing dari orang tua, pengajar dan sekolah telah melakukan fungsi sebagaimana mestinya, maka TIDAK ada istilah bottleneck dalam pengajian setiap hari Sabtu ini. Semua berkontribusi sesuai dengan porsi dan tingkat comfortable zone-nya masing-masing. Tidak ada yang merasa paling berjasa. Semuanya sama nilai kontribusinya.

Akhirulkalam, IFA bukan dominasi ekslusif warga Indonesia saja. IFA bukan milik territorial warga yang berdomisili di Katy saja. IFA merupakan salah satu alternative dari sekian banyak alternatives yang ada untuk belajar bersama dalam scope internal keluarga dan juga sesama keluarga Muslim yang ada. From what we have now, Are we there yet? (Prahoro Nurtjahyo, 18 Mei 2009)